Isu ini pun ternyata sampai ke telinga warga setempat. Namun, mereka tak menggubrisnya. Bahkan, anak-anak pun tak khawatir bermain di genangan banjir.
Kendati begitu, dia juga membenarkan bahwa wilayahnya terdampak banjir. Bahkan, sawahnya pun dipastikan gagal panen.
Sebab, tanaman padi yang kini sudah keluar malainya itu terendam lebih dari tiga hari. "Sampai sekarang masih. Ya sudah, jelas gagal. Nanti menanam lagi," dia menuturkan.
Senada dengan Darwati, warga lain yang lebih senior, Sumarno (68) juga membantah kemunculan buaya. Bahkan, seingatnya, sudah puluhan tahun di tempat ini tak ada kemunculan buaya.
"Kalau buaya itu dulu ada. Saya juga hanya mendapat cerita, kalau buaya di sini pernah kelihatan. Tapi saya sendiri tidak pernah lihat secara langsung," Sumarno menegaskan. Sumarno menjelaskan, Dusun ini berada di dalam tanggul sungai yang dibangun pada 1986. Tanggul dibangun selebar mungkin, hingga satu kampung pun menjadi kampung di dalam tanggul.
Sebab itu, ketika Sungai Cikawung meluap, dusun ini menjadi yang pertama terdampak. "Kalau tidak salah waktu itu sudah ada 50 rumah," dia mengungkapkan.













































